Goresan KENANGA: Pendidikan

creation without limits

Hot

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2011

Pendidikan Karakter

Jumat, Oktober 14, 2011 0

Karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Dalam arti yang luas karakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).

Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter meliputi 9 (sembilan) pilar yang saling kait-mengait, yaitu:
1. responsibility (tanggung jawab);
2. respect (rasa hormat);
3. fairness (keadilan);
4. courage (keberanian);
5. honesty (kejujuran);
6. citizenship (kewarganegaraan);
7. self-discipline (disiplin diri);
8. caring (peduli), dan
9. perseverance (ketekunan).

Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.

Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Read More

Minggu, 03 Juli 2011

Bayi dan Dunia Bermain

Minggu, Juli 03, 2011 0
Dunia anak adalah dunia bermain, bahkan sejak mereka mulai lahir. Mereka melihat aneka objek yang bergerak dengan antusias, menendang-nendang mainan atau selimutnya tanpa bosan, mereka belajar untuk menelungkup dengan pantang menyerah, mereka merasakan berbagai tekstur, mencium berbagai aroma, mendengar berbagai suara, dan menantang kemampuan fisik mereka. Bayi dibawah usia 3 bulan sudah mulai bereksplorasi melalui kegiatan bermain. Meskipun tampak sangat sederhana, kegiatan bayi kecil ini sebenarnya tidak hanya makan dan menangis namun ada hal lain yaitu tatapan mata, reflek menggenggam, dan sentuhan pengasuh
Bayi diatas 3 bulan memiliki kegiatan yang lebih terarah. Keingintahuannya lebih terarah misalnya dengan mencoba menoleh kearah suara yang ia dengar. Pada usia ini, bayi akan senang memainkan tangannya, mengenali wajah orang terdekat, dan juga mengamati mainan. Acara mandipun bisa menjadi satu hal yang paling menyenangkan seperti memukul-mukul air atau menaruh mainan didalam bak mandi.
Diatas 6 bulan umumnya bayi sudah dapat duduk sendiri tanpa dibantu, dapat merangkak, mengoceh, memegang benda-benda kecil dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya, serta mengajaknya bermain cilukba. Boneka yang lembut, buku sederhana dapat menjadi pilihan untuk bayi seusia ini.
Usia 10 bulan keatas bayi akan mulai belajar berdiri dan mencoba untuk berjalan. Pada usia ini beberapa alat rumah tangga bisa dijadikan mainan seperti baskom, mangkok kecil, dan lainnya dengan tidak melupakan unsur keamanannya, mainan susun atau tumpuk dapat menjadi pilihan. Matanya berbinar ketika melihat hal baru, tawanyapun menggelak saat menguasai keterampilan baru. Otaknya demikian sibuk memainkan berbagai fakta baru yang ia temukan dan keterampilan baru yang ia dapati. Inilah keajaiban sensorimotor dan practice play yang dilakukan oleh bayi. Untuk bayi yang cepat bosan dengan mainan memang seringkali menuntut orangtua atau pengasuhnya untuk lebih kreatif ketika mengajak bayi bermain. Seiring dengan bertambahnya usia bayi aktivitasnyapun makin meningkat maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam kegiatan bermain :
1.   Tujuan bermain adalah permainan itu sendiri dan si pelaku mendapat kepuasan karena melakukannya (tanpa target), bukan untuk misalnya mendapatkan uang.
2.   Dipilih secara bebas. Permainan dipilih sendiri, dilakukan atas kehendak sendiri dan tidak    ada yang menyuruh ataupun memaksa.
3.   Menyenangkan dan dinikmati.
4.   Ada unsur kayalan dalam kegiatannya.
5.   Dilakukan secara aktif dan sadar.
Ketika bermain dengan bayi yang paling penting adalah kesesuaian. Artinya, mainan yang diberikan harus sesuai dengan usianya karena mainan yang terlalu mudah dimainkan akan membuat bayi cepat bosan atau bila mainan yang diberikan mempunyai tingkat kesulitan yang lebih dari seusianya tentu akan membuat bayi frustrasi. Selain itu kesesuaian berkaitan erat juga dengan keselamatan. Dunia bermain bayi adalah dunia belajar bayi, permainan menjadi objek belajar setahap demi setahap sesuai dengan usianya, dari permainan itulah bayi mulai mengerti dan dapat dilihat tahap perkembangannya melalui respon terhadap dunia sekelilingnya. Maka menjadi kewaspadaan orangtua terhadap dunia bermain dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan, karena berpengaruh terhadap pertumbuhan bayi.
Read More

Jumat, 17 Juni 2011

Hubungan Perpustakaan dan Prestasi Belajar di Sekolah

Jumat, Juni 17, 2011 0
           Istilah perpustakaan berasal dari kata latin yaitu liber atau libri  yang artinya buku. Dari bahasa Indonesia: perpustakaan berasal dari kata pustaka. Perpustakaan adalah suatu unit kerja dari suatu badan atau lembaga tertentu yang mengelola bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan berupa buku ( non book material ) yang diatur secara sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat digunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya.
Read More

Kamis, 16 Juni 2011

Profil STAI-BU Tambakberas Jombang

Kamis, Juni 16, 2011 0
A. Sejarah Singkat Awal Berdiri dan Perkembangan
Pada tahun 1965 (alm) KH. Abdul Wahab Hasbulloh sebagai salah seorang penerus perjuangan orang tuanya KH. Abdussalam atau yang juga dikenal dengan sebutan Mbah Shoichah, pada saat itu sebagai Ketua Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas Jombang Mendiklarasikan ”BAHRUL ULUM” sebagai nama pondok pesantren sekaligus menetapkan pula lambang lembaga pendidikan ini. Hal ini beliau lakukan untuk merespon tuntutan zaman yang sekaligus merupakan obsesi besarnya menjadikan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sebagai lautan ilmu.
Read More

Rabu, 08 Juni 2011

Pola Interaksi di Kelas Dalam Sebuah Pendidikan

Rabu, Juni 08, 2011 0

Hidup  bersama  antara  manusia  berlangsung  dalam  berbagai bentuk perhubungan dan berbagai jenis situasi. Tanpa adanya sebuah proses  interaksi  di  dalam  hidup  itu  tidaklah  mungkin  bagi  manusia  untuk hidup  bersama.  Proses  interaksi  itu  dimungkinkan  oleh  kenyataan,  bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki sifat sosial yang besar. Setiap proses interaksi  tersebut  terjadi  dalam  ikatan  suatu  situasi  yang  nyata 
. Di antara berbagai jenis situasi  itu,   terdapat   satu  jenis  situasi  khusus  yakni  situasi kependidikan. Pendidikan merupakan sebagian dari fenomena interaksi kehidupan manusia.  Pada  hakekatnya  pendidikan  itu  terdiri  dari  aksi  dan  reaksi atau timbal balik  yang   tak   terbilang   banyaknya,   baik   antara   perorangan   maupun   antara kelompok. Oleh karenanya pendidikan merupakan bagian dari interaksi baik di kelas atau didalam lingkungan tertentu. Beberapa orang guru menyadari betapa pentingnya menciptakan interaksi yang baik dan efektif dengan para muridnya dikelas dalam mencapai tujuan pendidikan.
Interaksi merupakan hubungan timbal balik secara langsung antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar, dengan adanya komunikasi untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Timbulnya interaksi dalam proses pembelajaran ditentukan oleh faktor-faktor (1) guru (2) siswa (3) tujuan pembelajaran (4) materi/isi pelajaran (5) metode penyajian (6) media yang digunakan dan (7) situasi dan kondisi kelas (8) sistem evaluasi. Dalam hal ini interksi terjadi dikelas yang merupakan suatu masyarakat kecil yang merupakan merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai tujuan. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian interaksi di kelas dalam pendidikan adalah hubungan timbal balik secara langsung antara guru dan murid dalam suatu tempat belajar mengajar untuk menuju kepada terbentuknya kepribadian
Pada dasarnya, pendidikan berintikan interaksi antara guru dan siswa Tanpa ada faktor guru dan peserta didik dengan berbagai potensi kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dimiliki, tidak mungkin proses interaksi belajar mengajar di kelas atau di tempat lain dapat berlangsung dengan baik. Guru merupakan komponen utama dalam pendidikan karena tanpa guru pendidikan mustahil berlangsung. Ada beberapa pola interaksi yang harus diterapkan guru di kelas yaitu pola keikhlasan, pola kekeluargaan, pola kesederajatan, pola uswah al-hasanah dan pola kebebasan.  Pola komunikasi guru dan siswa dalam interaksi dikelas dalam pendidikan terbagi menjadi dua yaitu pola komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah dalam pendidikan dan komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi banyak arah dalam interaksi pendidikan.

Read More